Ilustrasi Kurt Cobain Sebelum Bunuh Diri

Sebelum fajar, Kurt Cobain terbangun ditempat tidurnya. Televisi
menyala, menyiarkan acara MTV
tetapi tanpa suara. Dia berjalan menuju stereo setnya dan menyetel
"Automatic for the People"
dari REM, lalu menyalakan sebatang Camel Light dan membaringkan diri
ditempat tidur dengan
mendekap sebuah kertas ukuran besar dan sebuah pena merah di dadanya.


Dalam waktu singkat
kertas kosong itu mampu menggugah niatnya untuk menulis, menulis
kata-kata yang telah
dibayangkannya selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun
dan bahkan beberapa
dekade lamanya, namun dia tidak segera menulis karena kertas besar itu
terlihat kecil baginya,
terbatas. Sebenarnya dia sudah menulis surat pribadi yang panjang
untuk istri dan anak
perempuannya yang diletakkan di bawah salah satu dari bantal-bantal
yang beraroma parfum
Courtney.
“Kamu tahu, aku mencintaimu. Aku mencintai Frances. Aku minta maaf.
Tolong jangan ikuti aku.
Maaf, maaf, maaf, (berulang kali ia menuliskan kata “maaf” sehingga
memenuhi kertas)
maafkan aku. Aku akan selalu ada (dicoret) - Aku akan melindungimu.
Aku tak tahu kemana aku
akan pergi. Tapi aku tak bisa tinggal lebih lama disini.”
Meski berat baginya untuk menulis surat pertama tadi, dia tahu surat
kedua yang akan ditulisnya
akan sama pentingnya dan dia harus berhati-hati memilih kata-katanya.
Lalu dia menulis judul
surat itu - “To Boddah” – nama teman khayalannya sewaktu kecil. Dia
menggunakan huruf-huruf
kecil yang ditulis dengan sangat berhati-hati dan menulis semuanya
dalam suatu kesatuan tanpa
mengindahkan tanda baca. Dia menyusun kata-katanya secara cermat,
untuk memastikan kata-
katanya jelas dan mudah dimengerti.
Untuk Boddah
Karena ditulis oleh seorang tolol kelas berat yang jelas-jelas lebih
pantas menjadi seorang
pengeluh yang lemah dan kenakak-kanakan, surat ini seharusnya mudah
dimengerti. Semua
peringatan dari pelajaran-pelajaran punk rock selama bertahun-tahun.
Setelah perkenalanku
dengan – mungkin bisa dibilang – nilai-nilai yang terikat dengan
kebebasan dan keberadaan
komunitas kita ternyata terbukti sangat tepat. Sudah terlalu lama aku
tidak lagi merasakan
kesenangan dalam mendengarkan dan juga menciptakan lagu sama halnya
seperti ketika aku
membaca dan menulis. Tak bisa dilukiskan lagi betapa merasa
bersalahnya aku atas hal-hal
tersebut. Contohnya, sewaktu kita bersiap di belakang panggung dan
lampu-lampu mulai
dipadamkan dan penonton mulai berteriak histeris, hal itu tidak
mempengaruhiku, laiknya
Freddie Mercury, yang tampaknya menyukai, menikmati cinta dan pemujaan
penonton. Sesuatu
yang membuatku benar-benar kagum dan iri. Masalahnya, aku tak bisa
membohongi kalian.
Semuanya saja. Itu tidak adil bagiku ataupun kalian. Kejahatan
terbesar yang pernah aku
lakukan adalah menipu kalian dengan memalsukan kenyataan dan
berpura-pura bahwa aku 100
persen menikmati saat-saat diatas panggung. Kadang aku merasa bahwa
aku harus dipaksa
untuk naik keatas panggung. Dan aku sudah mencoba sekuat tenaga untuk
menghargai paksaan
itu, sungguh, Tuhan percayalah kalu aku sungguh-sungguh melakukan itu,
tapi ternyata itu tidak
cukup. Aku menerima kenyataan bahwa aku dan kami telah mempengaruhi
dan menghibur
banyak orang. Tapi, aku hanya seorang narsis yang hanya mmenghargai
sesuatu jika sesuatu
itu sudah tidak ada lagi. Aku terlalu peka. Aku butuh sedikit rasa
untuk bisa merasakan kembali
kesenangan yang kupunya ketika kecil. Dalam tiga tur terakhir kami,
aku mempunyai
penghargaan yang lebih baik terhadap orang-orang, baik dalam
kapasitasnya sebagai pribadi
maupun sebagai penggemar, tapi aku tetap tidak bisa lepas dari rasa
frustasi, perasaan bersalah
pada diriku sendiri, dan empatiku pada semua orang. Semua orang punya
sisi baik dan milikku
adalah bahwa aku terlalu mencintai orang-orang. Saking cintanya itu
membuatku merasa sangat
sedih. Aku adalah Jesus man, seorang Pisces yang lemah, peka, tidak
tahu terimakasih, dan
sedih. Kenapa kamu tidak menikmatinya saja ? tidak tahu. Aku punya
istri yang bagaikan dewi
yang berkeringat ambisi dan empati dan seorang putri yang
mengingatkanku akan diriku sendiri
dimasa lalu. Penuh cinta dan selalu gembira, mencium siapa saja yang
dia temui karena
menurutnya semua orang baik dan tidak akan menyakitinya. Itu membuatku
ketakuta sampai-
sampai aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak bisa membayangkan
Frances tumbuh
mennjadi rocker busuk yang suka menghancurkan diri sendiri dan
menyedihkan seperti aku
sekarang. Aku bisa menerimanya dengan baik, sangat baik, dan aku
bersyukur, tapi aku telah
mulai membenci semua orang sejak aku berumur tujuh tahun. Hanya karena
mereka terlihat
begitu mudah bergaul, dan berempati, empati ! Kupikir itu disebabkan
karena cinta dan
perasaanku yang terlalu besar pada orang-orang. Dari dasar perut
mualku yang serasa terbakar,
aku ucaokan terimakasih atas surat dan perhatian kalian selama ini.
Aku hanyalah seorang anak
yang angin-anginan dan plin plan! Sudah tidak ada semangat yang
tersisa dalam diriku. Jadi
ingatlah, lebih baik terbakar habis daripada memudar. Damai, cinta,
empati. Kurt Cobain.
Frances dan Courtney, aku akan berada di altar kalian
Kumohon teruslah hidup Courtney
untuk Frances
untuk hidupnya yang akan lebih bahagia
tanpa aku. AKU CINTA PADAMU. AKU CINTA PADAMU.
Setelah selesai menulis surat, dimasukkannya kedalam saku dan dia
bangkit dari tempat tidurnya
dan mengambil tas nilon berisi senapan, sekotak peluru dan sebuah
kotak cerutu berisi heroin dari
lemari bajunya. Dengan perlahan dia berjalan menuruni Sembilan belas
anak tangga yang lebar.
Akan ada banyak darah, banyak sekali darah dan kengerian yang tidak
dia inginkan untuk terjadi
didalam rumahnya, karena dia tidak ingin menghantui rumahnya dan
meninggalkan anak
perempuannya dengan mimpi buruk seperti mimpi-mimpi yang pernah dialaminya.
Kurt melewati dapur, mengambil sekaleng root beer. Dia membuka pintu
menuju halaman belakang
dan berjalan melewati teras kecil, berjalan dengan santai menuju rumah
kaca yang berjarak 20
langkah, menaiki tangga kayu dan membuka pintu menuju taman. Dia duduk
di lantai bangunan
satu ruangan itu, mengamati keadaan dari pintu depan. Layaknya seorang
sutradara hebat, dia
sudah merencanakan hal ini sampai pada detail terkecil sekalipun,
sudah banyak gladi besih
(percobaan bunuh diri) yang dia lakukan beberapa tahun belakangan.
Lalu dia mengambil surat dari
sakunya, masih ada sedikit ruang tersisa disitu. Dia meletakkannya di
lantai dan menulis dengan
huruf yang lebih besar - “Kumohon teruslah hidup Courtney, untuk
Frances, untuk hidupnya yang
akan lebih bahagia tanpa aku. Aku cinta padamu. Aku cinta padamu.” –
untuk mengakhiri
suratnya.
Dia mengeluarkan senapan dari tasnya. Lalu dia pergi ke wastafel untuk
mengambil sedikit air
untuk memasak heoinnya lalu duduk kembali. Dia mengeluarkan kotak
berisi 25 butir peluru,
membuka dan mengambil 3 butir, memasukkannya kedalam magasin,
mengokangnya, lalu melepas
pengamannya. Dia menghisap Camel Lightnya yang terakhir dan meminum
beberapa teguk root
beer. Lalu Kurt mengambil plastic kecil berisi heroin pada kotak
cerutunya, heroin jenis black tar
ala Meksiko seharga 100 dolar – sebuah jumlah heroin yang banyak. Dia
mengambil setengahnya,
seukuran penghapus pensil, dan meletakkannya diatas sendik. Secara
cermat dan sangat ahli Kurt
menyiapkan heroin dan alat suntiknya, menyuntikkannya diatas siku. Dia
meletakkan alat-alat itu
kembali dalam kotak dan merasakan dirinya melayang, secara cepat
mengapung dari tempatnya.
Kurt menyingkirkan peralatannya, melayang ringan dan makin ringan
lagi, sementara nafasnya
justru semakin berat. Dengan kekuatan yang tersisa Kurt mengambil
senapan yang berat dan
mengarahkannya kelangit-langit mulutnya, pelatuknya juga tidak kalah
berat dari senapannya. Ini
mungkin akan sangat keras; dia sangat yakin akan hal itu. Dan kemudian
dia pergi.
-5 April 1994

(download)

Syaifudin Ahmad

Syaifudin Ahmad

Hi blogger, I am Syaifudin Ahmad (this is my library name, actually my real name is the opposite of it Ahmad Syaifudin). My friends usually called me dean. I don’t know why they called me that way. They said that most of them can’t spelling my name correctly so they prefer called me dean instead of my real name. I live in jombang east java – Indonesia, but i don’t have exact address because i sometime go somewhere else. however, you can always meet me in cyber world through my twitter, facebook, other social media site with nickname “d34nmu or deanmu” or drop in my homepage. I am 2….. years old, single and currently working as freelancer while studying. I am social media enthusiast, I’d love to expand network throughout cyber world, make friends with whoever can make me happy and able add my knowledge.

I am also English learner, i am currently learning English a lot to fulfill my dream exploring Europe, America and Africa. I would like being there since there are many places of interest which can make me get more challenges, dig knowledge, share culture and meet somebody new with different ethnic and perspective. I am look like a dreamer but i am quite sure someday at least i can castaway on one of that continents.

Another side of me, i am gadget lover, Love Traveling, Internet addict, Blogger, Arsenal fan, love Maria Sharapova and love Indonesian food very much. I also like composing music from my old guitar, being a greatest musician is my passion when i was in senior high school. Even if the quality of my record is not fully perfect since i can only record them with my old cell phone but many of my friends like listen to it.

If you wonder and curious of my songs i made myself, just point out your mouse on this link visit http://syaifudin.posterous.com/rss.xml?tag=music or you can also download 16 songs in zip file here http://www.4shared.com/file/127536112/80cd0345/Deanmu_Songs.html

I’d love in writing whatever comes in my mind. Visit http://d34nmu.co.nr to peep my little notes. Thank you. Check out to know furthermore about me at http://about.me/d34nmu

Contributors

Posterous theme by Cory Watilo