COWBOYS IN PARADISE review
Akhir akhir ini santer diberitakan di internet tentang sebuah film dokumentri penjaja cinta (gigolo) yang mengambil seting di kuta bali sebuah pantai yang menjadi daya tarik wisatawan aisng mancanegara di bali.
Heboh memang mengingat cerita film tersebut memaparkan detail cerita tentang petualangan gigolo di pulau dewata yang khas dengan wisata
religius, dan kultur budaya hinduisme yang kuat.
Saya sendiripun sebenarnya tidak tahu tentang adanya film dokumentri ini, dan baru tahu kemarin saat dapat info dari teman yg bekerja di travel agen di denpasar. Saya sendiri merasa penasaran dan tertarik mengenai film dokumentri tersebut bukan karena ceritanya yang katanya erotis, tapi salah satunya saya sekarang berada di Bali tepatnya di Kesiman - Denpasar.
Malam minggu kemarin tanggal 24 april sebelum mengetahui tentang berita film kontroversi ini, saya sempat jalan2 santai di pantai kuta sekedar refreshing dan menghabiskan waktu luang. Akhirnya ini hari sempat
browsing nyari sinopsis tentang film kontroversi ini yang katanya menurut berita dari bali post yang sempat saya ikuti sedang diselidiki kasusnya terkait pembuatan film dikumenter ilegal dan mengeksploitasi kehidupan "undergroud" di kawasan pariwisata tersebut, berikut hasil interview saya dengan om google diambil dari beberapa sumber.
Bali in search of paradise. And many find
it in the arms of Kuta Cowboys. Masters at
peddling holiday romance, these bronzed
beach ambassadors have made Bali one
of the world ’s leading destinations for
female sex tourists.
COWBOYS IN PARADISE is an independent
feature documentary that gets between
the sheets of Bali ’s male sex trade.
Using a series of startling, and often
hilarious confessions, the film reveals
some of the island ’s most closely-
guarded secrets. Why don’t the boys
charge for sex? How then do women
compensate them? Where do time
management skills fit into all this? And
how does a Cowboy ’s family feel about
his errant ways?
The film also charts the typical trajectory
of a Cowboy ’s life, from entry into
beach life to his reign at the top of the
tourist-industry chain, before following
his heartbreaking descent into
obsolescence. By the end, the myth of
paradise is shattered and the viewer is
presented with a more realistic
proposition: Paradise is always
elsewhere. Oh ya kalo ngak ngertos bahasa inggris, bisa pake google translate atau toggletext.com. Untuk liat trailernya silhkan cek dibawah. sebetulnya film ini udah lama digarap diketahui dari upload filmnya setahun lalu. tapi Kemarin gw sempat tanya ke teman katanya DVD nya belum realease yak?

